Adukan (Specie)
Adukan (Specie)
Tembok untuk bangunan terdiri dari batu bata (bata merah) yang terbuat dari tanah liat dicetak lalu dibakar sampai matang.
Batu bata disusun dan saling dilekatkan dengan perekat yang dinamakan adukan atau specie.
Campuran bahan adukan terdiri dari : kapur, semen merah, dan pasir.
Gunanya :
1. Kapur sebagai bahan pelekat
2. Semen merah sebagai bahan tambahan (toeslag)
3. Pasir sebagai bahan pencegah susut
Perbandingan campuran dikatakan dalam satuan taker. Untuk pemasangan tembok campuran bahan specie yang dipakai : “1 Kapur : 1 Semen merah : 2 Pasir”
Caranya : Campuran bahan diaduk dalam keadaan kering sampai merata (homogen). Kemudian dituangkan air sedikit-sedikit sambil diaduk hingga basahnya merata.
Perekat ini memerlukan kontak dengan udara, sebab kapur tidak dapat membatu di dalam air atau jika diisoleer (dipisahkan)dengan udara.
Peralihan dari wujud basah ke kering dinamai membatu, harus lambat supaya tidak retak-retak.
Specie yang lebih kuat serta cepat membatu terdiri dari Portland - Cement disingkat PC sebagai bahan pelekat dicampur pasir sebagai bahan pencegah susut.
Campuran specie tersebut adalah “1 PC : 3 atau 4 pasir.” Untuk membatunya specie ini tidak membutuhkan kontak dengan udara, dapat membatu didalam air yang dinamakan hydraulis.
Jikalau tembok ini berhubungan dengan zat garam atau asam, supaya tahan lama, perlu ditambah dengan tras disingkat tr.
Perbandingan campurannya = “1 PC : 1 tr : 3 ps”
Untuk menjaga supaya specie tidak retak-retak susut, maka temboknya selama beberapa hari harus dibasahi air.
Selapis specie tebalnya 1 cm dinamai voeg.
Yang horizontal dinamai Lintvoeg.
Yang vertical dinamai stootvoeg.
Jikalau specie PC dicampur dengan kerikil atau pecahan batu – batu kecil, maka adukan ini dinamai beton.
Perbandingan campuran beton = 1 PC : 2 ps : 3 kerikil.
Supaya beton mampu menahan tegangan tarik dan lentur, didekat sisi luar dipasangi jaringan atau rangka batang besi bulat yang merupakan tulang – tulang. Ini dinamakan beton bertulang.
Sumber: Materi Kuliah saya di Pendidikan Teknik Bangunan, Jurusan Pendidikan Teknik Sipil, Universitas Pendidikan Indonesia
Tembok untuk bangunan terdiri dari batu bata (bata merah) yang terbuat dari tanah liat dicetak lalu dibakar sampai matang.
Batu bata disusun dan saling dilekatkan dengan perekat yang dinamakan adukan atau specie.
Campuran bahan adukan terdiri dari : kapur, semen merah, dan pasir.
Gunanya :
1. Kapur sebagai bahan pelekat
2. Semen merah sebagai bahan tambahan (toeslag)
3. Pasir sebagai bahan pencegah susut
Perbandingan campuran dikatakan dalam satuan taker. Untuk pemasangan tembok campuran bahan specie yang dipakai : “1 Kapur : 1 Semen merah : 2 Pasir”
Caranya : Campuran bahan diaduk dalam keadaan kering sampai merata (homogen). Kemudian dituangkan air sedikit-sedikit sambil diaduk hingga basahnya merata.
Perekat ini memerlukan kontak dengan udara, sebab kapur tidak dapat membatu di dalam air atau jika diisoleer (dipisahkan)dengan udara.
Peralihan dari wujud basah ke kering dinamai membatu, harus lambat supaya tidak retak-retak.
Specie yang lebih kuat serta cepat membatu terdiri dari Portland - Cement disingkat PC sebagai bahan pelekat dicampur pasir sebagai bahan pencegah susut.
Campuran specie tersebut adalah “1 PC : 3 atau 4 pasir.” Untuk membatunya specie ini tidak membutuhkan kontak dengan udara, dapat membatu didalam air yang dinamakan hydraulis.
Jikalau tembok ini berhubungan dengan zat garam atau asam, supaya tahan lama, perlu ditambah dengan tras disingkat tr.
Perbandingan campurannya = “1 PC : 1 tr : 3 ps”
Untuk menjaga supaya specie tidak retak-retak susut, maka temboknya selama beberapa hari harus dibasahi air.
Selapis specie tebalnya 1 cm dinamai voeg.
Yang horizontal dinamai Lintvoeg.
Yang vertical dinamai stootvoeg.
Jikalau specie PC dicampur dengan kerikil atau pecahan batu – batu kecil, maka adukan ini dinamai beton.
Perbandingan campuran beton = 1 PC : 2 ps : 3 kerikil.
Supaya beton mampu menahan tegangan tarik dan lentur, didekat sisi luar dipasangi jaringan atau rangka batang besi bulat yang merupakan tulang – tulang. Ini dinamakan beton bertulang.
Sumber: Materi Kuliah saya di Pendidikan Teknik Bangunan, Jurusan Pendidikan Teknik Sipil, Universitas Pendidikan Indonesia
Komentar
Posting Komentar